"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu merasa kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (an-Nisa’:104)"

Kamis, 24 Februari 2011

Hati - Hati Terhadap Salafi Palsu


Sesungguhnya Dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal dengan ASWAJA yang telah dibawakan oleh pengaku pemegang bendera Salafiyyah yang mengklaim mereka paling benar yang menisbatkan dirinya sebagai seorang Salafi atau Salafiyyun adalah batil dan sesat.
Saat ini ada kalangan yg mengaku salafi (salafi palsu / salafi maz'um / wahabi) padahal kalangan ini sangat benci kepada jihad dan mujahidin.
Penisbatan As-Salafi/Salafy, Al-Atsari, Salafiyyun dan yang semisalnya adalah tidak ada asal usulnya sebab Masyayikh Rujukkan mereka Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan (Syaikh Ibnu Al-Fauzan) Hafidzhahulloh berkata: ” Salaf adalah Hizbulloh (Golongan Alloh) yang beruntung, adapun penamaan dengan As-Salafi atau Al-Atsari tidak ada asal usulnya, yang wajib adalah seseorang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya”.
(Lihat Buku ” Beda Salaf denganSalafi harusnya sama kenapa Beda?, dilengkapi Fatwa Ha’iah Kibarul Ulama, Karya: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Muth’ab bin Suryan Al-’Ashimi Hafidzhahulloh Terbitan: Media Islamika Hal. 140-143)
 Yang anehnya Buku ini dibantah oleh Kalian dengan Judul Beda Salaf dengan Hizbi!, apakah ini yang dinamakan Dakwah Salafiyyah saling Membantah).
Yang anehnya mereka ( yang mengaku pengikut salaf ) menjadikan Aqwal Rizal (Pendapat Para Tokoh) sebagai standar Manhaj (Pemahaman)
padahal menurut Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para Ulama Rabbani adalah sumber hukum baik dalam masalah Aqidah maupun yang lainnya adalah bersumber kepada Kitabulloh Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ Salafush Shalih yakni para Pendahulu Ummat yang Sholeh Seperti Para Shahabat Ridwanulloh ’Ajmain, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in yang mendapat petunjuk itulah yang patut diikuti dan Ijma’ Ummat secara Umum.
Akan tetapi dikalangan pengikut Salafi atau Salafiyyun ini Aqwal Rizal (Pendapat Para Tokoh) di jadikan sebagai standar Manhaj yang dapat mengeluarkan seseorang atau kelompok, Tandzim (Organisasi) Islam, Harakah, Jama’ah dari Ahlussunnah wal Jama’ah padahal Manhaj bukan sebagai standar figuritas dan seharusnya yang patut kita ikuti adalah pedoman Kitabulloh Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai Manhaj SalafushShalih dan Ulama Rabbani bukan menjadikan para tokoh baik Kyai, Syaikh, Ustadz, Da’i, dll sebagai figuritas yang harus di ikuti baik dalam perkataan mereka, perbuatannya, tingkah lakunya, bukankah Rasululloh panutan kita).
Aneh bin ajaib betul mereka yang mengaku pembawa bendera Salafiyyah yang paling benar dan gampang sekali mereka menuduh para Ulama, Du’at dan Mujahidin dengan kata-kata yang tidak enak di dengar seperti gampang sekali mereka menuduh saudara sesama muslim yang tidak sejalan dengan Fikroh (Pemikiran) dirinya dengan kata-kata seperti Sururiyyun, Quthubiyyun, Takfiriyyun, Hijbiyyun, Khawarij, dll (Walaupun hingga saat ini kita takpernah mengetahui secara jelas apa itu perkataan seperti itu yang seharusnya tidak etis untuk dikatakan oleh seorang muslim) atau cacian-cacian lain yang tidakkalah buruknya. Pengakuan mereka sebagai pemegang bendera dakwah Salafiyyah di manapun perlu di ukur secara benar menurut Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Bukan semata pengakuan atau Tazkiyyah (Rekomendasi) dari Masyayikh mereka saja. Karena penentu kebenaran itu adalah Kitabulloh Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut Pemahaman As-Salaf Ash-Shalih (Salafush Shalih), terkadang seharusnya mereka itu harus ta’bayun (Klarifikasi/cek dan ricek) dan Tasabbut (Mencari data akurat) terlebih dahulu sebelum mereka mengatakan seseorang atau Tandzim (Organisasi) Islam, Harakah atau Jama’ah yang di tuduh oleh mereka yang mengaku pengikut salaf.
Renungkanlah dan periksa QS. 17:36, Tafsir dalam ayat ini adalah kita dilarang berkata tanpa ilmu, bahkan hanyadugaan dan khoyal ”. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan periksalah kembali QS.4:94, oleh karena itu kita harusnya diperintakan Ta’bayun dan Tasabbut dalam seluruh keadaan yang akan mengarah terjadinya kesamaran (Isytibah) sampai jelas masalahnya dan tegas kebenaran dan ketepatannya. (Lihat Kitab Taisir Al-Karim Ar-Rahman fii TafsirKalam Al-Mannan, Karya: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Abdurrahman bin Natsir As-Sa’di Rahimahulloh, Hal. 195).
Oleh karena itu wahai kalian yang mengaku pengikut salaf baik Ulama, Du’at dan Jama’ahnya dengarlah kalian seharusnya andabersikap bijak dalam berbicara jangan gampang menuduh tanpa bukti saudara kalian dengan kata-kata yang tidak enak di dengar.
Padahal Masyayikh rujukkan kalian diantara satu dengan yang lainnya tidak ada yang saling menuduh, memojokkan, menghina sebelum mereka Ta’bayun dan Tasabbut terlebih dahulu, apakah ini yang dinamakan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah?
Wahai yang gampang sekali menuduh saudara sesama Muslim dengan kata-kata yang tidak enak di dengar, padahal Masyayikh rujukkan kalian berfatwa seharusnya kita walaupun berbeda Tandzim (Organisasi) Islam, Harakah, Jama’ah atau golongan yang seharusnya kita bersikap Ta’awun (yakni bersikap bekerjasama, gotong royong & saling menasehati) antara satu dengan yang lainnya bukan hanya saling menuduh sebelum kalian Ta’bayun dan bersikap Tasabbut, ingatlah wahai kalian yang mengaku pengikut salaf kesalahanfatal kalian adalah gampang sekali menuduh para Mujahidin yang berjuang demi menegakkan dan meninggikan Kalimatulloh dengan tuduhan yang berlebihan.
Rosulullah SAW bersabda, Ya, (akan muncul) para penyeru kepada pintu-pintu neraka Jahannam, Barang siapa mengikuti seruan mereka niscaya akan mereka campakkan kedalam neraka jahannam. Huzaifah bin yaman ra berkata “Wahai Rosulullah terangka...nlah sifat-sifat mereka kepada kami!”
Rosulullah SAW bersabda, “mereka berasal pada kulit yang sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita”. (HR. Bukhori no.6557 dan Muslim no. 3434)
Hadits ini memperingatkan kepada umat islam untuk mewaspadai para penyeru isme-isme kufur dan sesat, yang secara lahiriah adalah beragama islam, bahkan menjadi tokoh yang memegang kendali urusan umat islam, namun pola pikir, pola keyakinan dan pola hidupnya menyelisihi Al-Qur’an dan As-sunah. Umat islam yang tidak mempunyai pemahaman islam yg utuh dan lurus sangat mungkin sekali terjebak pada rayuan manis namun beracun para penyeru kepada neraka jahannam tersebut. Bila itu yang terjadi, niscaya kesesatan didunia dan kebinasaan di akhiratlah yang akan dipetik oleh mereka. Na’udzu Billahmin Dzalika.

Selasa, 08 Februari 2011

Mengapa Surah At-Taubah tidak diawali dengan Bismillah


Jika kita mengamati dan membaca ayat2 dari Alquran Alkarim sehingga sampai kepada surah At-taubah, kita akan dapati di awal surah At-taubah itu tiada perkataan basmalah/bismillah…ini amat berbeza sekali dengan surah2 yang lain kerana kesemua surah2 didalam mushaf alquran mengandungi basmalah diawalnya kecuali surah At-taubah ini…kenapa dan mengapa keadaan ini berlaku…setiap sesuatu yang datang daripada Allah mesti ada sebab musababnya…sama2 kita teliti apa jawapan yang sebenarnya yang diulas dari ulamak berkenaan masalah ini… Pendapat di kalangan ulama ahli tafsir tentang sebab-sebab kenapa tidak ada basmalah di awal surah At-taubah, iaitu: Pendapat Pertama mengatakan bahwa telah menjadi kebiasaan orang orang Arab pada zaman dahulu apabila ada di antara mereka perjanjian tertulis maka mereka menuliskan bismillah…akan tetapi jika ingin membatalkan perjanjian tersebut, mereka menuliskannya tanpa membubuhi atau meletakkan basmallah…Ketika turunnya Surah At-taubah yang menandai tidak berlakunya perjanjian antara Rasulullah dan orang musyrikin, Rasulullah s.a.w. mengutus Ali bin Abi Thalib membacakan surah tersebut dengan tanpa menyertakan basmallah di awalnya… Kedua, pendapat yang mengatakan bahawa terdapat kesamaan diantara surah At-taubah dengan surah sebelumnya Al-anfal…maka dikatakan bahwa surat At-taubah merupakan kelanjutan dari surah sebelumnya, sehingga tidak ada basmalah di awal surah tersebut. Pendapat ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi… Ketiga, surah At taubah berdekatan dengan surah Al-baqoroh dan mempunyai kesamaan antara keduanya, maka tidak dituliskan basmalah di awal surah… Keempat, pendapat yang mengatakan bahwa ketika dilakukan pembaikan mushaf pada zaman khalifah Ustman r.a, terdapat perbezaan pendapat antara para penulis mushaf, apakah surah At-taubah dan Al-anfal merupakan satu surah atau dua surah yang berbeza? Untuk mengambil jalan tengah dari dua pendapat tersebut, maka ditetapkan bahawa surah At-taubah dan Al-anfal adalah dua surah dengan tanpa menuliskan basmallah di awal surat At-taubah… Kelima, diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, ketika ditanya oleh Ali bin Abi Thalib kenapa tidak dituliskan basmalah diawal surat Taubah? Beliau menjawab, “bismillahirrahmanirrahim” mempunyai makna keamanan dan perdamaian, dan surah At-taubah turun dalam bayang-bayang pedang ketika berlangsungnya perang Tabuk…dimana tidak ada situasi aman pada saat itu…Basmallah itu sendiri menyiratkan makna rahmat kasih sayang, sedangkan surah At-taubah banyak berisi kecaman dan sanggahan terhadap sikap orang-orang munafiq dan orang kafir, maka tidak ada rahmat bagi mereka… Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa malaikat Jibril tidak menyertakan basmalah ketika menurunkan surah at-Taubah… Apa yang pasti, pendapat yang banyak diterima adalah pendapat dari yang kelima tersebut… Wallahu a’lam…

Nasehat Untuk Para Da'i


Mengapa mereka menempel di baju penguasa? Mereka memuja-muji panguasa? Tidak ada lagi nahyu munkar yang mereka tegakkan. Mereka menjadi kelompok atau golongan yang menyanyikan : “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang”.

Mereka memasuki semua relung kehidupan. Tidak ada lagi pembatas (hijab) atas diri mereka. Tidak ada lagi kata, ‘la’ (tidak), dan yang ada hanya ‘nikmati dan boleh’. Sehingga, kehidupan mereka bercampur dengan kebathilan.

Semua dalil mereka gunakan. Tujuannya hanya untuk membenarkan apa yang hendak mereka inginkan. Kata ‘ijtihad’ menjadi resep mujarab, dan semuanya mengangguk. Tidak ada yang menyangkal. Semuanya mengamininya. Tanda setuju dengan segala ‘ijtihad’ yang mereka lakukan. Terkadang saking fanatiknya dengan ‘ijtihad’ yang disuguhkan itu, tentu yang berada dalam barisan kumpulan dan golongan itu, yang sudah tersihir dengan kehidupan dunia, tak bakal menerima pendapat dari yang lainnya.

Al-Qur’an dan As-Sunnah tak lagi menjadi ukuran dan pembeda. Barangkali Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi tak lagi penting bagi kehidupan mereka. Karena tuntutan sekarang berbeda. Harus ada rumus dan ijtihad baru yang lebih sesuai dengan kehidupan dan perkembangan zaman. Tidak harus kaku dan fanatik dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari wahyu Ilahi. Semua prinsip dapat ditukar dan diganti, sesuai dengan perkembangan zaman. Semua prinsip dalam Al-Qur'an dan As-Sunah menjadi 'mutaghoyyirrot' (dapat berubah).

Rumus baru dalam kehidupan modern sekarang, tak lain, sebuah kepentingan. Prinsip-prinsip dapat diubah dan disesuaikan dengan kepentingan. Bila nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bertabrakan dengan kepentingan yang lebih besar, harus dikalahkan nilai-nilai dan prinsip dari Al-Qur’an dan As-Sunnah itu. Tidak perlu takut. Tidak perlu kawatir. Karena yang dikejar adalah sebuah kepentingan yang lebih besar. Kekuasaan. Tidak bisa Al-Qur’an dan As-Sunnah itu dipaksakan. Apalagi dalam sebuah negara yang masyarakatnya majemuk (pluralis), maka harus ada rumus baru, khususnya dalam bermuamalah yang lebih terbuka alias inklusif. Sehingga, golongan diluar Islam dapat menerimanya.

Tidak mungkin menerapkan prinsip sabar. Sabar dalam mengamalkan isi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, terlalu lama dan panjang. Sedangkan umur ini sangatlah terbatas. Target-target dan capaian dunia harus diwujudkan. Diujung perjalanan ini harus ini harus ada, kisah tentang, ‘the success story’, yang akan menjadi ‘ther corner stone’ bagi generasi berikutnya. Kebanggaan sebagai sebuah maha karya, yang dituntaskan seumurnya.

Karena itu, langkah-langkah ekselarasi yang harus dilakukan, betapa itu terasa menjadi naif dan tidak logis. Semuanya harus berjalan, sesuai dengan skenario. Tidak penting banyak yang tidak setuju. Tetapi semuanya harus berjalan, dan yang penting segala target dan keinginan dapat terwujud. Inilah sebuah kenikmatan yang tanpa batas, saat mereka menikmati pujian dan sanjungan yang tak henti-henti dari para pengikutnya dan orang-orang yang terdekatnya.

Kilauan harta, kekuasaan, jabatan, kekuatan, wibawa, dan sanjungan, serta tabiat mereka yang ingin selalu dekat dengan penguasa itu, ternyata sudah menjadi karakter di awalnya.

Itulah mengapa Islam hari ini tidak memiliki izzah (kemuliaan) dihadapan manusia dan Allah Azza Wa Jalla. Karena para du’atnya diantaranya banyak yang tidak lagi komitment terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Mereka menjadi hamba-hamba dunia. Mereka menuhankan dan beribadah kepada yang memberi materi, jabatan, kekuasaan, dan bahkan ada diantara mereka yang menukar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan harga yang murah. Mereka lupa dan melupakan atas arahan dan perintah-Nya.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”, kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah ada pula yang tetap dalam kesesatan”. (QS : An-Nahl : 36)

Karakter seorang du’at, yang digambarkan oleh Al-Qur’an, hanyalah mengajak manusia untuk semata-mata menyembah kepada Allah, dan menjauhkan segala hal yang melampui batas dan dilarang oleh Allah (thogut), dan ini harus menjadi misi kehidupannya.

Tetapi, kenyataannya hari ini, sangatlah berbeda dengan seperti yang diinginkan oleh Allah Ta’ala, yang hakekatnya, ketika mengutus para Rasul, tak lain hanyalah untuk mengajak menyembah kepada Allah Azza Wa Jalla semata, bukan menyekutukan Allah dengan melakukan sesembahan terhadap ‘ilah-ilah’ lainnya. Pembalikan yang sekarang terjadi tak lain, karena mereka sudah kehilangan sikap tsabat (teguh), dan shabar terhadap keyakinan yang mereka miliki.

Shahabat Ali bin Abi Thalib RA, menyatakan sikap shabar itu, seperti pedang yang tidak pernah tumpul, dan seperti cahaya yang tidak pernah redup.

Dengan hilangnya sikap shabar para du’at yang hanya mengejar kehidupan dunia itu, maka mereka menjadi tumpul hati nuraninya, dan wajah mereka tidak lagi memancarkan cahaya iman, karena sudah terbalut dengan hitam pekatnya dunia.
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
".. Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam pertempuran. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (QS : Al-Baqarah : 177)

Allah Azza Wa Jalla menuntut para du'at untuk tetap bershabar dan membela dan menegakkan agama Allah, dan tidak kemudian menanggalkan keyakinan dan komitmentnya terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan lari dari komitmentnya terhadap Islam, hanya demi kenikmatan dunia. Wallahu’alam.

Rabu, 26 Januari 2011

CATATAN UNTUK IKHWAH YANG BERJUANG LEWAT PARTAI

Tidak diragukan bahwa setiap muslim yang masih mempunyai kepedulian terhadap islam pasti menginginkan islam kembali berjaya, menjadi sebuah sistem dan undang-undang yang mengatur kehidupan individu maupun masyarakat. Berbagai macam cara untuk itu pun dilakukan, baik dengan kekerasan maupun non kekerasan. Terlepas manakah cara yang benar, mendirikan partai politik Islam sebagai wadah perjuangan menegakkan syariát Islam merupakan cara yang dianggap sesuai pada zaman sekarang oleh banyak aktivis Islam. Dengan partai ini mereka akan bertarung dengan partai-partai sekuler penolak syari’at Islam di atas panggung parlemen dengan pemilu sebagai aturan mainnya. Bahkan, sebagian mereka menganggap hanya dengan cara inilah Islam dapat kembali berjaya.
Terlepas apakah cara ini dibenarkan dari segi syariát atau tidak, ada beberapa catatan bagi anda yang berjuang melalui partai Islam dalam menegakkan syariát Islam, Anda harus memperhatikan dan merenungkannya lama-lama:
1. Sebagaimana kita ketahui, aturan main dalam pertarungan ini ditentukan bukan oleh kalangan partai Islam, tetapi oleh pesaing kita dari kalangan orang-orang sekuler (nasionalis) penolak syariát Islam yang sedang berkuasa saat ini. Sebagai pembuat aturan main, tentu saja mereka lebih tahu dan lebih pintar dalam menggunakannya, bahkan dengan leluasa dapat menekak nekuknya sesuai selera mereka. Karena itu, anda sebagai aktivis partai Islam harus berlatih super keras agar lebih lihai dan cerdik, sehingga anda dapat mengalahkan mereka melalui cara yang mereka sendiri tentukan. Sebagai analogi yang mudah, anda sedang bertarung dengan macan dengan cara yang ditentukan macan itu: pakai taring dan cakar. Tentu saja, untuk mengalahkan lawan anda, taring dan cakar anda harus lebih ganas dan tajam. Karena itu anda harus berlatih super keras untuk menajamkan serta menguatkan taring dan cakar anda.
Bagi kami, tentu saja pekerjaan ini sangat berat. Karena itu, sangat lebih baik bila kita menggunakan cara kita sendiri menurut apa yang sudah digariskan dalam Al-Qurán dan As-Sunnah. Namun, bila anda tetap berjuang melalui partai politik, konsekusensinya adalah anda harus rela berberat-berat membuat taring dan cakar anda lebih kuat dan tajam daripada taring dan cakar macan. Bila tidak, partai Islam akan selalu menuai kekalahan. LLL
2. Sebagai konsekuensi dari perjuangan lewat pemilu, bila partai Islam anda kalah dan pihak sekuler nasionalis yang mendapatkan suara terbanyak, maka umat Islam harus memberikan kepatuhannya kepada mereka. Tentu saja, dilihat dari segi syariát hal seperti ini sama sekali tidak boleh terjadi. Umat Islam tidak boleh mengakui orang diluar mereka sebagai pengusa yang sah bagi mereka, meski menang mutlak melalui pemilu. Karena itu, tugas anda sebagai aktivis partai politik yang ikut meramaikan pemilu adalah menjelaskan kaum muslimin akan hakekat ini.
Hal ini bukan pekerjaan tanpa resiko yang berat. Sebab, menurut aturan main dalam sistem pemilu, pihak yang kalah harus tunduk kepada pihak yang menang. Bila tidak, mereka akan dianggap pengkhianat. Ketika partai Islam mengalami kekalahan, mereka tentu bagai makan buah simalakama: bila mereka tunduk kepada pihak pemenang yang tak lain adalah partai sekuler yang tentu saja bukan Islam, berarti mereka melanggar syariát yang melarang orang muslim tunduk kepada orang di luar Islam, termasuk orang sekuler; bila mereka tidak mau tunduk kepada orang-orang sekuler yang menang itu, niscaya cap pengkhianat akan dilekatkan pada mereka.
Namun, anda sebagai aktivis muslim, meskipun berjuang lewat partai, dan meskipun partai anda kalah, anda tetap harus memilih Allah dan Rasul-Nya mengikuti syariát yang Ia tetapkan dan tidak melanggarnya.
Bagi para ikhwah yang berjuang bukan lewat partai, tentu saja hal ini bukan menjadi masalah, sebab kalaulah partai sekuler menang, mereka tetap tidak harus mengakuinya sebagai penguasa.J
3. Sebagai efek dari ikut sertanya aktivis muslim dalam pemilu, banyak umat Islam kehilangan tolok ukur hakiki (syariát) dalam menimbang manakah yang layak dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang pantas dikuti dan mana yang tidak, mana yang sah menjadi penguasa dan mana yang tidak. Sebagai gantinya, mereka menjadikan ‘suara mayoritas’ sebagai barometer. Padahal tidak semua pendapat mayoritas itu benar, layak dan pantas diikuti. Bila seorang dokter memberi obat tertentu kepada anak anda yang sedang sakit, tapi seribu tukang pakir menyatakan tidak setuju, siapakah yang akan anda ikuti? Seorang dokter atau seribu tukang pakir? Bila pembuat pesawat terbang mengeluarkan buku panduan dalam perawatan pesawat terbang dan di saat yang sama seribu tukang becak juga membuat bukuan panduan lain tentang itu, manakah yang akan anda gunakan? Bila Pencipta manusia yang tahu tentang selak beluk manusia membuat suatu aturan untuk mereka, sementara mayoritas rakyat yang sangat tidak lebih tahu dari Pencipta mereka juga membuat aturan lain untuk diri-diri mereka, mana yang akan anda ikuti? Hakekat ini wajib anda jelaskan kepada umat, agar mereka tetap berada di atas tolok ukur yang benar, tolok ukur syariát, bukan ‘suara mayoritas’.
Bila seluruh aktivis Islam tidak ikut pemilu dan berjuang di luar panggung demokrasi, baik dengan dakwah ataupun jihad, efek yang timbul akan lebih baik: umat Islam akan paham bahwa Islam memang tidak pernah mengenal demokrasi dengan pemilu sebagai aturan mainnya.

Senin, 24 Januari 2011

Dasar Dien Islam


Imam Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab berkata pokok dan dasar dien Islam itu ada dua :

Pertama, Perintah untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dorongan untuk melaksanakan perintah tersebut, dan saling ber-wala (loyal) atas dasar perintah tersebut serta mengakfirkan orang yang meninggalkan perintah tersebut.

Kedua, Peringatan agar menjauhi perbuatan syirik  dalam beribadah kepada Allah bersikap keras dalam masalah ini, dan mengkafirkan orang yang melakukan ini,dan mengkafirkan orang yang melakukann ya
Inilah tauhid yang didakwahkan oleh para rasul. Dan ini merupakan makna kalimat la ilaha illallah, yaitu ikhlas, mentauhidkan dan mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah, ber-wala kepada dien-Nya dan kepada wali-wali-Nya, kufur dan bara’ kepada segala sesembahan selain Allah ta’ala, dan memusuhi musuh-musuh-Nya

Inilah tauhid I’tiqadi sekaligus tauhid amali. Dan surat Al-Ikhlas merupakan dalil untuk tauhid I’tiqadi sedangkan surat Al-Kafirun merupakan dalil untuk tauhid amali. Dahulu Rasulullah sering membaca dua surat tersebut dan senantiasa membacanya dalam shalat sunnah fajar dan yang lain….karena sangat pentingnya dua surat tersebut

Minggu, 23 Januari 2011

Untuk mereka yang sedang berdiam diri

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan besar.” (QS. At-Taubah : 11)

Sesunguhnya, masuk Dalam agama Islam bagaikan jabat tangan dalam transaksi jual-beli antara penjual dan pembeli….Allah sebagai pembelinya dan seorang mukmin sebagai penjualnya. Ini adalah transaksi jual beli langsung dengan Allah. Setelah transaksi itu, tidak tersisa sedikitpun sesuatu dalam diri seorang mukmin maupun dalam hartanya yang bisa menghalanginya dari Allah dan jihad fi sabilillah. Demi menjadikan kalimat Allah yang tertinggi dan seluruh agama hanya milik Allah……..

Sungguh, jihad di jalan Allah adalah sebuah perjanjian yang terikat di leher setiap mukmin. Setiap mukmin secara mutlak tanpa terkecuali, sejak adanya para rasul, dan sejak adanya agama Allah, jihad di jalan Allah  adalah sunnah yang pasti berlaku, yang tanpanya kehidupan ini tidak bisa berjalan lurus, dan dengan meninggalkannya kehidupan  tidak bisa berjalan dengan baik. Dengan pertolongan-Mu ya Allah sesungguhnya akad itu sangat menakutkan mereka yang menganggap diri mereka sebagai kaum muslimin  di bagian bumi sebelah timur dan barat, mereka hanya duduk-duduk dan berdiam diri tidak berjihad untuk menegakkan keilahan Allah di seluruh persada bumi. Dan untuk mengusir para thagut yang telah merampas hak-hak ke –ilah-an dan kekhususan-kekhususan-Nya dalam kehidupan para hamba, mereka tidak membunuh dan tidak terbunuh. Mereka tidak berjihad sama sekali untuk melawan pembunuhan dan perperangan.

Maklumat Bara

Kepada para thagut dimana pun dan kapanpun berada...

Kepada para thagut yang berwujud pemerintah, penguasa, presiden, perdana mentri, kaisar, kisra, dan raja

Kepada pembantu-pembantu mereka dan ulama-ulama mereka yang menyesatkan....

Kepada loyalitas-loyalitas mereka, bala tentara mereka, aparat kepolisian mereka, intel-intel mereka, hakim-hakim dan penjaga-penjaga mereka..

kepada mereka semua....kami katakan....

Sesungguhnya kami bara' terhadap kalian dan terhadap apa yang kalian ibadahi selain Alloh...

Kami bara' terhadap undang-undang kalian, manhaj-manhaj kalian, hukum kalian, dan prinsip-prinsip kalian yang buruk....

Kami kufur terhadap kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selam-lamanya sampai kalian beriman kepada Alloh saja....

Sungguh, akan aku perangi musuh-Mu selama Engkau menghidupkanku....

Dan sungguh, akan aku jadikan perang mealwan mereka sebagai adat kebiasaan....

Akan aku bongkar borok mereka di hadapan manusia....

Dan akan aku cengangkan mereka dengan lisanku yang mengatakan....

Matilah kalian dengan membawa kemarahan kalian karena Rabbku mengetahui....

kebusukan yang tersembunyi dalam hati kalian

Dan Allah-lah yang akan membela dien dan kitab-Nya

Serta Rasul-Nya yang akan membela dengan ilmu dan kekuasaannya

Kebenaran itu adalah penopang yang tidak akan dapat dirobohkan oleh seorang pun....
meskipun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya......

Ibnul Jauzy